Wajah manis


noenay anef cinta


Rembulan di celah randu tua, kaukah yang melukisnya di sana, mewarnainya dengan putih mutiara. Deras cahayanya menghanyutkan bayang-bayang rindu di lembah hatiku. Malam adalah musafir yang mencari tempat paling hangat, aku memanah langit agar bintang-bintang jatuh terbakar. Aku unggun bersamamu. Bukankah langit malam lebih hangat bila kau hamparkan di dadaku? Lalu kau memetik bintang-bintangnya untuk hiasan di giwangmu. Kurangkaikan kata paling indah di telingamu.
Kita saling memandang dalam gelora api jingga. Engkau menghapus keringat di wajahku, menggantinya dengan sebuah kecupan, kecupan berbentuk perahu. Yang berlayar hingga hatiku. Laut di jantungku bergemuruh. Ombak di mataku meleleh, hingga hilang seluruh garis pantai. Dan malam tinggal sebuah andai: bagaimanakah agar malam tak bergerak, kekasih? Apakah dengan mengikat rembulan agar tak terseret ke barat, agar tak menyisih? Karena aku ingin merangkai lebih banyak bintang untukmu.
Hati ini tak pernah tertidur, selalu bersyukur mencintaimu. Di kilau kristal matamu langit ungu menyimpan peta hatiku. Di hamparan malam kujelajahi wajahmu yang ranum. Di tabir rahasia yang mengunci bibirmu dengan senyum. Bukankah langit malam lebih indah bila aku memandanginya di matamu? Pada akhirnya bintang-bintang menitipkan cahayanya padamu. Bagaimana mungkin aku kehilangan kamu?

Mimpi telah sempurna di jendela pagi
kubelai tatapanmu embun menitik kelopak bunga
perlahan matahari membakar setiap tetesnya
untuk diabadikan menjadi cahaya
hangat berdesir dalam nadi
aliran kalimat cinta
agar kaurasakan debar jantungku.
Rasa syukurku mengisi semesta jiwa
aku merekah bahagia
hari bertumbuh seperti tunas-tunas erythrina
merona merah pancarkan nyala cinta
kukecup dahimu seperti rindunya matahari pada bumi
sebongkah hatiku kutanam di hatimu
agar tumbuh rindang menaungimu.

Seuntai angin mengayun rambut mayangmu, jatuh terurai, tatapanmu menyelinap geulis di antara garis-garis rambutmu, bak sinar matahari di celah gerimis, sebuah teralis yang akan menahanku berlama-lama memandangmu, sebab biasanya akan muncul pelangi melambai padaku menuruni pematang di hatimu, rindang dedaunan menyembunyikan reranting sunyi yang diam-diam ditumbuhi serumpun anggrek, makanya aku suka sekali memandangmu.
Gerimis menuntunku ke dekap tubuhmu. Aku larutkan puisi ke dalam ruhmu. Wajahmu lalu manis sekali, tak ada perempuan memiliki wajah semanis kamu, sungguh. Entah puisi apa yang kutulis, rasanya aku cuma melukiskan gerimis yang menetes di alis matamu. Dan aku, hanyalah setetes air yang terjebak di kelopak matamu, lalu ketika kaukerdipkan mata, aku terbata-bata dalam serangkaian kata-kata, makanya aku suka sekali memandangmu.
Wajah manis, tahukah rasanya menjadi tebu. Mengapa gerimis memilih jadi tetes tebu, penuh kenangan manis di setiap celahnya. Di kehijauan lembah, di antara pagi dan senja, di antara pertemuan yang tak terbilang jumlahnya. Karena itukah pelangi turut hadir dalam senyumnya penuh warna. Kau hanya menjawab dengan tatapan teduh, garis-garis gerimis, indah disinari cahaya pelangi.


Matahari berkilauan di daun-daun kenanga
menari di antara genangan jingga
sebentar lagi malam
merekam jejak kita pada kenangan
atau hanyut bersama kelam.
Tapi lirih suaramu seperti rinai hujan yang tak ingin berhenti
seperti butiran air yang jatuh di rerumputan
mengajakku tenggelam
derai airmatamu kembali berkilauan
menggenangi tubuhku dengan kenangan.
Bukankah senja telah mengubur semua yang silam
malam datang dengan menggenggam rembulan
menyiapkan tempat untuk kita bersulang
lalu kita saling memandang
bintang-bintang yang ada di mata kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s