I want to…

meyta anef cinta
Di langit senja garis-garis
lembayung bagai permadani tak bertepi
kulihat lambaian tanganmu berselimut sutera tipis
menyeret isi hatiku menjelma sungai mengalir deras
begitu membuncah menuju muara, melibas segala keraguan
aku pulang ke samudra hatimu.

Kutanyakan pada embun di manakah mereka ingin menjadi butir air, di manakah tempat paling indah yang mereka bayangkan menjadi kenangan paling manis. Menjadi tetesan paling indah sebelum matahari menjemputnya ke angkasa. Di sudut matamu, gumam embun padaku.
Setiap kali kau memandangku, embun-embun itu mengerling bahagia.

Aku bercermin pada sebuah kata dan melihat butiran air di balik tiap hurupnya, sebuah kata bercerita tentang hujan dan kau menyelinap tiap bulirnya – membuat hujan menjadi pemandangan paling menyenangkan bagiku.

Sehabis mandi. Parasmu ranum dan menyegarkan. Lalu butir-butir air bagai menuruni celah lembah, mengerling padaku. Aku terhanyut dibuatnya.


Ingin sekali menulis puisi di lembaran awan
angin meniupnya ke pinggir senja, mengubahnya menjadi hujan
dan kubayangkan engkau di sana, duduk menanti
sebait pelangi yang kuuntai.
Ingin sekali menulis puisi di atas gelombang laut
arus menghanyutkan ke celah teluk, mengubahnya jadi ombak bertaut
kubayangkan engkau di sana, duduk menanti
riak rindu yang kurangkai.
Ingin sekali menulis puisi di dalam keheningan
malam melarutkan dalam tidurmu, mengubahnya jadi impian
kubayangkan engkau di sana, rebah dalam dekapan
menyimak kalimat cinta yang kubisikkan.

Sepiring senja dan ceplok mentari kemerahan. Disajikan dengan rasa sayang. Taburan gerimis dikupas tipis-tipis. Selembar pelangi menambah indah hidangan. Seleraku bertambah saat kautambahkan saos canda. Kecap manis di bibirmu kuhapus dengan ciuman.
Kekasihku: cinta adalah hidangan. Resep rahasianya ketulusan dan pengorbanan. Rahasia yang dibawa Adam dan Hawa dari surga. Cinta adalah sebuah menu di surga, yang membuatmu tak merasakan kelaparan di saat lapar, tak kan merasakan kehausan di saat haus, tak merasakan penderitaan di saat derita. Yang membuatmu bertambah rindu, yang membuatmu kecanduan cumbu.
Angin beringsut perlahan. Langit hanyut ke seberang. Santapan ini tak sedikit pun berkurang. Kekasihku: cinta selalu bikin kenyang. Tetapi tidak membuat kekenyangan. Tidak membuat nafsu berkurang. Selalu ingin sayang-sayangan, siang dan malam.
Lihat gerimis. Seperti butir-butir kasih sayang yang kutaburkan dalam hidupmu, adalah pelangi untuk permadani kita ke nirwana. Berkilauan penuh warna. Tak usah khawatir remang menghapusnya dari cakrawala. Sebab gulungan pelangi tak ada habisnya di hatiku. Semuanya kuhidangkan untukmu.


Segulung puisi. Membungkus sunyi di rerumpun. Kutelusur misteri di lentik pelupukmu. Sebulir embun menitik di pinggir kerdipmu. Sejuk menetes lubukku. Bergulir. Bisik rindumu tersimpul di lekuk senyum. Buru-buru kuoles bibirmu segores cium.
Sebening subuh. Lirik-lirik melodis tulus kutulis untukmu. Bertiup merdu seruling pring wuluh ke seluruh penjuru. Merinding buluh perindu seperti dingin membelenggu tubuh. Kupeluk dirimu. Sekuntum kenikir kusunting di kupingmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s